Bicara Budaya dan Kritik Sosial Lewat Komedi bersama Abdur Arsyad

HelloBandung.com – Berbicara tentang kritik memang tidak ada habisnya, karena kritik memiliki beragam sisi dan sudut pandang, dan unsur-unsur dalam penyampaiannya yang menyebabkan suatu kritik relevan dan dapat diterima oleh orang atau instansi yang di kritik. Lalu ada budaya, salah astu “objek” yang paling dekat dengan manusia, yang pada jaman kini seringkali dianggap sesuatu yang kuno. Lalu muncullah kritik sosial, yang berfungsi sebagai sarana untuk mengontrol suatu sistem sosial yang mempengaruhi budaya. Ya, topik kali ini memang cukup berat, tetapi penyampaian kritik tidak harus selalu dilakukan dengan cara yang serius, atau bahkan mengintimidasi.

Penyampaian kritik dengan cara sindiran yang dibalut komedi sudah terjadi sejak awal mula manusia dapat berkomunikasi. Tapi di era yang lebih modern ini, penyampaian kritik dengan cara komedi ini semakin berkembang dengan tren-tren “Stand-up Comedy” yang semakin banyak dan semakin berani menyuarakan pendapat dan kritik-kritik terhadap nilai-nilai sosial budaya. Ya, di era yang penuh kebebasan berpendapat ini seseorang sudah tidak perlu takut lagi menyuarakan pendapatnya dengan bebas. Media baik digital maupun konvensional tak lagi dikekang, dan gaung dari kritik-kritik oleh individu, yang dulu merupakan suatu hal yang sangat beresiko kini dapat terdengar dengan lantang dan menjangkau banyak kalangan.

Sebagai contoh Stand-up comedian Abdur Arsyad, yang terkenal dengan komedi cerdasnya yang seringkali tertanam sindiran-sindiran terhadap budaya dan ketidak-adilan yang terjadi di masyarakat. Abdur Arsyad memiliki ciri khas saat membawakan materi komedi yaitu seringkali mengangkat tema kritik sosial serta keprihatinan dan keresahan atas hal-hal atau fenomena yang terjadi pada masyarakat. Apalagi ditambah dengan asal usulnya yang berasal dari Indonesia Timur yang seringkali memiliki perbedaan budaya dan kebiasaan dari daerah lain. Melalui komedi, hal-hal yang berkaitan tentang isu sosial khususnya yang terjadi di kampung halamannya di Nusa Tenggara Timur.

Di kesempatan kali ini, kami berkesempatan mengikuti Instagram Live yang menghadirkan Abdur Arsyad sebagai bintang tamu dalam membahas “Bicara Budaya dan Kritik Sosial Lewat Komedi” yang diselenggarakan Pandi lewat Program Merajut Indonesia Melalui Digitalisasi Aksara Nusantara (MIMDAN) yang saat IG Live MIMDAN tersebut sudah merupakan acara ke 6 yang disellengarakan. Pandi sebagai Pengelola Nama Domain Indonesia menyelenggarakan Merajut Indonesia yang merupakan sebuah program dimana nantinya seluruh Aksara yang ada di Indonesia akan di digitalisasikan ke dalam bentuk digital sehingga bisa dipergunakan di Internet melalui perangkat pintar seperti laptop, telfon genggam dan lainnya.

Melanjutkan pembahasan IG Live MIMDAN#6 dengan bintang tamu Abdur Arsyad, banyak pertanyaan netizen yang dibacakan oleh moderator IG Live, Evi Sri Rezeki yang ditanyakan dan menjadi bahan diskusi pada saat IG Live berlangsung. Menurut Abdur Arsyad, seringnya kritik yang dilontarkan tanpa dikemas dengan baik dianggap sebagai kecaman, walaupun pada dasarnya kritik tersebut bersifat membangun. Beliau berpendapat bahwa salah satu kemasan yang dapat diterima oleh semua orang adalah komedi, suatu sandiwara ringan, walau kadang menyindir.

Abdur Arsyad menceritakan bahwa mempersiapkan materi komedi merupakan proses yang serius. Memiliki langkah-langkah penyusunan tema, kalimat, ide-ide hingga eksekusi yang harus dilakukan dengan serius. Apalagi jika materi yang dibawakan mengandung unsur kritik sosial dan budaya. Abdur juga merasa lebih nyaman untuk melakukan stand-up comedy seorang diri dibandingkan bersama dengan comedian lain dengan alasan agar materi yang disampaikan sesuai rencana.

Respon masyarakat terhadap suatu komedi, khususnya yang mengandung kritikan sosial dan budaya tentu berbeda-beda. Ada masyarakat yang merasa setuju, tidak setuju, senang, sedih, bahkan marah. Oleh karena itu Abdur merasa bahwa materi stand up comedy harus dipersiapkan dengan matang.

Materi stand up ini juga pada dasarnya adalah hal-hal yang dekat dengan kehidupan. Materi yang kuat adalah materi yang memenuhi 3 unsur, yaitu Pengetahuan, Kepedulian, dan Persona. Pengetahuan adalah seberapa paham seorang aktor stand up terhadap topik dan materi yang akan dibahas, sedangkan Persona adalah pembahasan materi yang dekat dan relevan dengan keseharian dan personalitas aktor standup comedy tersebut.

Sebelum membuat karya seni berupa naskah komedi, perlu seorang komedian memperbanyak referensi, khususnya membaca. Apalagi jika berhubungan dengan kritik sosial, harus selalu membaca dan mencari informasi terbaru dan terlengkap dari suatu peristiwa karena materi yang dihasilkan akan banyak berhubungan dengan masyarakat.

Selain itu, di era media sosial saat ini seringkali interaksi yang terjadi melalui media internet baik melalui media sosial ataupun media digital berujung pada bentrok dan ketersinggungan masing-masing pihak. Padahal, menurut Abdur, biasanya interaksi yang terjadi di dunia nyata sangat jarang berujung negatif. Jadi kemudahan interaksi secara online ternyata seperti pisau bermata 2 yang dapat lebih mudah terjadi mis-informasi.

Sebagai komedian yang berasal dari Indonesia bagian Timur, Abdur seringkali membuat materi tentang budaya dan aktifitas yang terjadi di daerah timur tersebut. Hal ini menurut Abdur dilakukan karena orang-orang banyak yang masih melihat latar belakang dibandingkan apa yang dibicarakan. Jadi akan lebih mudah menarik audience jika pematerinya berasal dari budaya yang dibahas tersebut. Namun, menurut Abdur juga ada alternatif melihat budaya dari sisi perspektif budaya lain. Beliau mencontohkan bahwa karena memiliki seorang istri yang berasal dari Jawa, Abdur sebagai “orang timur” bisa membuat materi yang membahas perbedaan dan pengalaman “seorang timur” dalam mengikuti prosesi pernikahan dengan adat Jawa. Hanya saja, penyampaian materi dengan perspektif ini harus dirancang dengan lebih berhati-hati karena memiliki resiko menyinggung masyarakat, adat, dan budaya yang lebih tinggi.

Sebagai penutup, Abdur memberikan kata-kata mutiara yang sangat menarik.

Setiap karya akan menemukan penikmatnya sendiri.

 

 

Tinggalkan komentar