Review Buku Kisah Ayah : Jejak Seorang Perintis Dalam Sunyi Karya Yunis Kartika

Hellobandung.com – Ada banyak cara untuk mengenang seorang ayah. Sebagian orang menyimpannya dalam album foto, sebagian lagi melalui cerita yang terus diceritakan kepada anak cucu. Dan membaca buku dengan kisah ayah, entah bagaimana selalu berhasil mengundang haru sekaligus rindu. Itulah yang terjadi saat membaca buku Kisah Ayah : Jejak Seorang Perintis Dalam Sunyu Karya Yunis Kartika.

Buku Kisah Ayah : Jejak Seorang Perintis Dalam Sunyi (Lubuklinggau Itu Kotaku) Karya Yunis Kartika

Sebagai awal, mari kita bedah dulu informasi umum dari buku ini :

Judul buku : Kisah Ayah : Jejak Seorang Perintis dalam Sunyi (Lubuklinggau itu kotaku) 

Nama penulis : Yunis Kartika 

Nama penerbit dan tahun terbit : Stiletto Book Cetakan 1, April 2026 

Jumlah halaman : 152 lembar 

Nomor ISBN : 978-623-509-591-3 

Dalam buku Kisah Ayah: Jejak Seorang Perintis dalam Sunyi (Lubuklinggau Itu Kotaku), Yunis Kartika sebagai penulis memilih mengabadikan sosok ayah melalui rangkaian kenangan yang sederhana, hangat, dan penuh makna. Buku ini bukan biografi ya, melainkan sebuah memoar yang mengajak pembaca menyelami perjuangan seorang ayah yang mungkin tidak banyak dikenal, tetapi meninggalkan jejak besar bagi keluarga dan lingkungannya. Dan diakui atau tidak, peran ayah pada anak sama besarnya dengan peran Ibu, hanya saja gaungnya sedikit lebih kecil. Apresiasinya kadang dalam sunyi dan senyum saja.

kisah ayah karya yunis kartika

Sebelum memulai membaca dan menemukan daftar isi, ada quote yang tersemat di sana :

“Beberapa kisah tidak perlu ditinggikan dengan kemegahan, cukup dituliskan dengan cinta dan kesetiaan”

– Yunis Katika –

Buku ini menyajikan kisah seorang perintis yang menjalani hidup dengan keteguhan, kerja keras, dan pengabdian. Penulis buku ini, Yunis Kartika membawa kita dekat dengan sosok ayah yang diceritakan, membawa suasana sekaligus imaji seolah ikut menyaksikan kisah ayah yang berjuang dalam sunyi. Latar kota Lubuklinggau menjadi bagian penting dalam cerita karena tidak hanya menjadi tempat “bersejarah” bagi tokoh utama tetapi juga menjadi saksi perjalanan hidup sang ayah sekaligus tempat yang mengajak pembaca untuk mampir sejenak pada ingatan masa kecil.

Penulis tidak menyusun kisah secara kronologis, melainkan melalui potongan-potongan ingatan yang saling melengkapi. Gaya penyampaian seperti ini membuat pembaca merasa sedang membuka album kenangan keluarga, di mana setiap halaman menghadirkan cerita yang memiliki makna tersendiri. Menarik sekali, penuturannya sangat indah tapi juga tegas dan memiliki alur yang ramah dan bisa diikuti.

Salah satu kekuatan utama buku ini adalah kemampuannya menghadirkan sosok ayah sebagai manusia yang utuh. Sang ayah tidak digambarkan sebagai pribadi yang sempurna, melainkan sebagai seseorang yang menghadapi berbagai tantangan hidup dengan keteguhan hati. Penggambaran tersebut membuat kisah terasa lebih dekat dengan kehidupan pembaca termasuk saya. Banyak orang mungkin akan menemukan kesamaan dengan sosok ayah mereka sendiri, yaitu pribadi yang lebih banyak menunjukkan kasih sayang melalui tindakan daripada kata-kata. Yang menyimpan sedih dan pedih dalam diam yang justru tampak pada kerutan, tubuh yang tak lagi tegap juga pada tangannya yang kian lama kian menampilkan urat sekaligus keriput di antara kerja keras dan waktu yang terus berkejaran.

Bahasa yang digunakan Yunis Kartika juga menjadi nilai lebih. Kalimat-kalimatnya sederhana, mengalir, dan mudah dipahami, tetapi tetap memiliki nuansa reflektif yang kuat. Penulis ini, Yunis Kartika mampu menyampaikan emosi tanpa kesan berlebihan sehingga setiap peristiwa terasa alami. Pembaca tidak dipaksa untuk merasa haru, tetapi justru diberi ruang untuk merenungkan pengalaman hidup yang diceritakan.

Selain mengangkat kisah keluarga, buku ini juga menyampaikan berbagai nilai kehidupan. Ketekunan, kejujuran, tanggung jawab, penerimaan dan semangat untuk terus berjuang menjadi pesan yang muncul hampir di setiap bagian cerita. Nilai-nilai tersebut terasa relevan dengan kehidupan saat ini, ketika banyak orang sering kali lebih fokus mengejar pencapaian tanpa sempat menghargai perjuangan sebelumnya. Buku ini mengingatkan bahwa keberhasilan seseorang tidaklah bisa dipukul rata, dan menjalani hidup dengan penerimaan dan hati yang lapang adalah bentuk syukur yang tak bisa dinilai dan justru diajarkan hidup dalam garis waktunya.

Meski demikian, menurut saya ada beberapa hal yang dapat menjadi catatan. Alur yang berpindah-pindah mengikuti aliran kenangan mungkin membutuhkan perhatian lebih dari pembaca yang terbiasa dengan cerita yang tersusun secara kronologis. Namun, hal tersebut tidak mengurangi kekuatan utama buku ini sebagai sebuah memoar yang sarat makna.

kisah buku ayah karya yunis kartika

Saya pribadi sangat relate saat membaca buku ini, terutama pada bagian I pada bab Rumah Toko Yang Ambruk. Sebagai alumni kehilangan rumah karena bencana, saya merasa dekat pada bab ini. Penulis Yunis Kartika begitu piawai menatar kata menjadi kalimat yang menggambarkan kesedihan dengan porsi yang pas, tidak berlebihan.

Secara keseluruhan, Kisah Ayah: Jejak Seorang Perintis dalam Sunyi (Lubuklinggau Itu Kotaku) merupakan bacaan yang hangat dan penuh refleksi. Buku ini tidak hanya bercerita tentang seorang ayah, tetapi juga tentang arti perjuangan, keluarga, penerimaan, dan melanjutkan hidup walau merasa tidak utuh. Bagi pembaca yang menyukai kisah keluarga, memoar, atau cerita inspiratif yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, buku ini layak untuk dibaca. Bahkan sangat direkomendasikan.

Final Thought

kisah buku ayah karya yunis kartika

Saya memberikan penilaian 4,5 dari 5 bintang untuk buku ini. Kekuatan cerita terletak pada kejujuran penulis dalam mengenang sosok ayah dan kemampuannya menghadirkan kisah yang sederhana, tetapi menyentuh. Setelah menutup halaman terakhir, saya menyadari bahwa warisan terbesar seorang ayah bukan hanya harta atau jabatan, melainkan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan kepada anak-anaknya. Melalui buku ini, Yunis Kartika berhasil menunjukkan bahwa jejak seorang perintis mungkin berjalan dalam sunyi, tetapi akan terus hidup dalam ingatan dan hati orang-orang yang mencintainya.

Menurut saya ini cocok dibaca oleh remaja maupun orang dewasa, dibaca dalam sekali duduk atau pelan-pelan. Buku ini akan meninggalkan lega sekaligus refleksi pada pembaca : kapan terakhir kali bertemu dan melihat ayah dengan seksama. Tak perlu banyak bicara, pandangi saja gurat-gurat kehidupan yang memahat wajah dan tubuhnya.

Bravo penulis Yunis Kartika, buku yang bagus!

Tinggalkan komentar